Monday, November 13, 2006

Forgive people for your own benefit

Ada banyak orang yang susah ngaku salah dan bilang maaf
Gengsi, dong!
Takut terlihat bodoh
Takut terlihat lemah
Takut jadi kambing hitam

Ada banyak orang yang terlalu gampang ngumbar kata maaf
Sesuai ajaran agama katanya...
Dan...
Biar masalah cepet kelar
Biar dibilang orang berjiwa besar

Tapi dikit banget orang yang bener-benar sadar
Kalau maaf itu artinya
KITA BELAJAR DARI KESALAHAN DAN BERUSAHA UNTUK TIDAK MENGULANGINYA SUPAYA KITA BISA MELANJUTKAN HIDUP TANPA ADA BEBAN EMOSI YANG TERSISA.

Tuesday, August 29, 2006

Untuk para JAHILS

Mudah terganggu. Itulah salah satu kekurangan saya memang. Mudah terganggu saat kerja, mudah terganggu dengan komentar orang lain dan mudah terganggu dengan ketidak adilan yang selalu ada d dunia. Dan kekurangan saya itu memang sering d manfaatkan oleh orang-orang untuk hiburan pribadi mereka. Hmmmm.. berarti paling tidak kekurangan saya itu masih bisa menghibur orang lain, ya? :p Jadi tidak akan menyusahkan orang lain, toh intinya?

Tapi... hanya orang-orang yang dekat atau paling tidak yang sering bertemu dengan saya yang tau bahwa saya juga punya kekurangan lainnya, yaitu PELUPA. Jadi ketika merasa tergangu dengan sikap seseorang, besok harinya sangat mungkin saya sudah tidak ingat lagi. Ato bisa saja saya akan lupa satu jam kemudian...

Jadi... bagi orang-orang yang menganggap saya adalah seorang musuh (yang ada d beberapa comment d blog ini)do something else lahh... don't waste your precious time on a loser like me (according to your opinions yah??). Karena saya memang susah untuk d rubah. Saya akan selalu mengasihani diri sendiri (makanya saya enggak mau punya rasa benci atopun iri terhadap seseorang, karena saya enggak mau hidup saya ini d habiskan dengan memikirkan orang lain). Saya mungkin akan selalu jadi orang yang egois dan manja... Well, at least i'm not pretending to be a perfect person and accept my error as human being nicely..

Tapiiii... terima kasih, ya.. atas semua kritikannyaaa itu.. I really appreciate it.. Have a good life, ok? So, u can learn to love yourself like i do...

Thursday, March 30, 2006

Musim kembali berganti

Pancaroba. Masa seperti ini selalu jadi situasi yang kurang menyenangkan. Semuanya serba enggak jelas. Kadang hujan, kadang panas. Dan sudah pasti keadaan seperti ini akan mengundang penyakit. Sebuah situasi di mana terjadi perubahan yang otomatis akan menghadirkan beraneka ragam resiko.

Keadaan inilah yang sedang saya hadapi saat ini. Dunia saya mengalami perubahan.Jika tadinya saya menghabiskan sebagian waktu bersama orang-orang yang hidup di dunia penuh khayal, dunia ketawa ketiwi, dunia live today forget tomorrow, sekarang semuanya telah berganti.

Saya memutuskan untuk meninggalkan semua kenangan manis itu. Saya memutuskan untuk masuk ke dunia nyata, di mana tidak ada lagi orang yang berteriak-teriak semaunya, berlarian dengan bebasnya ataupun ngobrol sampai mau gila. Yah, sebuah chapter kehidupan harus ditutup.

Dan kini, saya sedang mengalami masa transisi, layaknya pergantian sebuah musim. Saya yang terbiasa berada di suasana ramai dan penuh kegilaan harus beradaptasi dengan suasana hening dan lingkungan yang lebih dewasa. Lingkungan yang lebih memikirkan sebab akibat, lingkungan yang menganut live today for a better tomorrow, lingkungan yang mungkin lebih baik untuk bisa bertahan hidup di dunia nyata. Dan itu semua cukup menyesakkan pada awalnya. Karena sekarang hidup saya dihiasi oleh rambu-rambu aturan. Harus hati-hati dalam melangkah, harus lebih tertib, HARUS BERTINGKAH LAYAKNYA ORANG DEWASA. MENYEBALKAN!

Tapi di sisi lain, saya sadar bahwa hal ini memang harus dilakukan. Yang namanya hidup pasti berputar, yang namanya musim pasti berganti. Jadi saya tidak mungkin menginginkan satu musim saja di hidup ini, sekalipun saya merasa sangat menikmatinya. It's just too imposible. Jadilah sekarang ini saya mulai bertarung untuk bisa bertahan di musim yang baru ini, lengkap dengan sejuta ketakutan, harapan dan semangat yang bercampur jadi satu.

Tuesday, January 10, 2006

Attention, Please?!

“Yulin elo itu harus selalu diperhatikan, ya? Sepertinya elo itu orang yang sangat butuh perhatian besar.”

Begitu kira-kira kata Soleh, teman kerja saya dulu. Saat itu saya menghampiri mejanya sambil bilang, “Soleh lagi ngapain?” Ahh.. mendengar kata-katanya itu saya langsung speechless. Tidak menyangka akan dihantam dengan kata-kata seperti itu. Padahal saat itu saya hanya mau mencari teman karena lagi enggak ada kerjaan. Keruan saja saya langsung menyingkir dari mejanya dengan perasaan mutung berat. Sedih saja. Saya cuma mau mencari teman tapi malah mendapat pernyataan yang sebenarnya tidak sepenuhnya salah.

Memang. Saya orang yang suka diperhatikan karena saya gampang sekali merasa kesepian dan bosan. Saya perlu sesuatu hal yang bisa menyenangkan hati sehingga saya bisa merasa terhibur. Dan untungnya semua itu bisa saya dapatkan sepenuhnya dari kedua orangtua. Maklum, anak tunggal. Hehehe… Pasti kamu akan menyangka ini hanyalah pembenaran saya saja. Tapi coba saya jelaskan. Saya terbiasa melihat dan menerima segala sesuatunya utuh. Saya memang tidak terkondisikan untuk berbagi. Jadi saya harus belajar berbagi seperti orang lain yang memiliki saudara. Dan berbagi itu susah sekali!!!! Makanya, saya suka sebal dan sedih terlahir jadi anak tunggal. Karena banyak sekali hal yang perlu saya pelajari, SEORANG DIRI. Ibarat orang yang sedang belajar bahasa, mungkin saya adalah orang yang sedang belajar bahasa Cina atau Jepang. Jadi saya harus belajar dari nol, Belajar dari menulis huruf-hurufnya. Baru setelah itu belajar kosa kata dan tata bahasanya. Sedangkan orang lain hanya belajar bahasa Inggris yang hanya perlu belajar kosa kata dan tata bahasanya saja.

Tapi saya sadar, enggak semua orang harus mengerti dan mau memaklumi keadaan saya. Saya juga maklum kalau orang suka merasa terganggu dengan segala tingkah laku saya yang kadang tidak karuan dan suka menganggu. And I’m so sorry. Terkadang saya suka tidak sadar bahwa kelakuan saya sudah menyusahkan orang lain. Sometimes I can be so impulsive and ignorance, especially when I’m not happy and lonely. And nothing else matters except myself. Hahaha.. such a selfish bitch! Tapi ya sudahlah… Saya selalu percaya hidup itu adalah serangkaian proses pembelajaran diri yang sangat panjang. Dan semoga saja suatu hari nanti saya menjadi terbiasa untuk berbagi dan tidak lagi selalu harus diperhatikan. Sehingga saya tidak lagi butuh perhatian yang sedemikian besarnya lagi.

Tuesday, January 03, 2006

GULALI

Benda ini memang selalu menarik, meskipun bagi orang-orang yang enggak suka makan permen sekalipun. Bentuknya yang warna warni dipadu dengan rasanya yang manis adalah sebuah paket yang benar-benar menggoda. Tapi memang, sesuatu yang menyenangkan itu cenderung merugikan. Sial! Makanya, ketika kecil, kita pasti bakal dimarahin kalau kebanyakan membelinya. Berjuta ancaman dari orangtua pun mengalir deras. Mulai dari enggak dikasih uang jajan sampai ancaman bakal ke dokter gigi. Yah, namanya anak kecil, pasti takut dengan kemungkinan harus ke dokter gigi dan enggak bisa jajan.

Lalu ketika kita dewasa, gulali itu beralih fungsi dari pemanis mulut menjadi pemanis hati. Nah, karena dampaknya semakin berguna, gulali ini pun jadi makin berbahaya. Karena banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Semakin besar resiko, semakin menarik. Begitu kira-kira… Serunya lagi, gulali ini sepertinya lebih mudah didapatkan. Paketnya pun lebih beraneka ragam. SANGAT MENGGODA.

Ahhh… gulali. Saya dulu suka sekali melihat dan terkadang tergoda juga untuk membelinya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membelinya. Karena toh, semua rasanya hampir sama, selalu manis pada awalnya. Tapi setelah itu semuanya jadi berantakan. Yang pada akhirnya enggak ada juga yang saya dapatkan. Then I just stop.

Tapi ternyata enggak segampang itu juga. Meskipun saya tahu kegiatan membeli gulali itu enggak baik, saya tetap suka melihatnya. Karena saya merasa ingin memandangnya disaat saya perlu melihat sesuatu yang mampu menstimulasi jiwa. Berbahaya memang… Seperti ketika berjalan-jalan ke sebuah toko pecah belah, saya musti berhati-hati. Soalnya kalau sampai pecah, berarti harus membeli. Belum lagi kalau memang ketemu sama barang yang benar-benar sesuai selera. Sedangkan untuk membelinya saya takut bokek, karena sudah ada keperluan lain yang lebih penting yang harus dibeli. Tapi disitulah semuanya menjadi tambah menarik. ‘Cause it’s more tempting and thrilling when you want something but you can’t have them.

Tuesday, December 27, 2005

Dare to be different = Dare to be yourself

Beda dari yang lain. Kata-kata seperti itu makin sering saya dengar beberapa tahun belakangan ini. Orang-orang seakan-akan berlomba untuk menciptakan segala sesuatu yang berbeda. Mereka juga berusaha keras untuk bisa terlihat beda. Sebenarnya keinginan itu bagus dan sah-sah saja. Tapi ironisnya, saat slogan seperti itu bertebaran dimana-mana, budaya ikut-ikutan pun tambah merajalela. Pergi saja ke mal. Saat jamannya bohemian kembali in, hampir semua cewek memakai pakaian seperti itu. Namun hal itu masih bisa dimaklumi. Namanya juga perempuan, yang memang punya kadar lebih besar untuk memperhatikan tren dibandingkan dengan laki-laki. Tapi herannya akhir-akhir ini kaum adam pun ikutan latah dalam berbusana. Bukannya menghina, tapi hal seperti ini semakin kelihatan jika dibandingkan dulu. Dan saking inginnya terlihat beda, ada banyak orang yang akhirnya malah kehilangan arah bahkan kehilangan dirinya sendiri. Menyedihkan!

Bagi saya, rasa ingin terlihat beda dari yang lain enggak perlu terlalu dibesar-besarkan. Karena pada dasarnya setiap manusia diciptakan berbeda. Baik bentuk fisik ataupun kepribadian. Bahkan, anggota tubuh kita sendiri saja tidak sama. Contoh, alis yang bentuknya tidak sama atau perbedaan ukuran payudara perempuan. Terus kenapa musti pusing untuk berusaha jadi sesuatu yang beda? KITA SEMUA MEMANG BERBEDA.

Sayangnya, ada banyak sekali orang yang malu untuk menunjukan jati dirinya. Takut enggak dianggap, takut dibilang kampungan, takut dibilang enggak asyik. TAKUT…TAKUT…TAKUT. Jadilah mereka bertingkah seaneh mungkin supaya bisa masuk kategori THE COOLEST PEOPLE. BUAT APA?

Saya sendiri enggak pernah mau ambil pusing kalau ada orang yang bilang saya aneh, annoying dan manja. Karena itulah saya. Buat apa saya harus merubah itu semua hanya karena ingin lebih disukai orang lain. Tapi bukan berarti saya bangga dengan karakter seperti itu. Saya hanya berusaha untuk bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan diri sendiri. DAN ITU SULIT!

Jadi saya pikir, daripada pusing memikirkan cara untuk mampu menjadi orang yang “catchy”, lebih baik kita belajar untuk bisa jujur sama diri sendiri. Lebih baik kita belajar untuk bisa lebih menghargai diri sendiri. Lebih baik kita bisa menerima diri apa adanya. Sehingga kita tetap bisa jadi diri sendiri. So, we can make our own colors in life.

Thursday, December 22, 2005

...

Ketika jauh
Ketika pudar
Ketika redup
Ketika sepi

Inginkan asa
Inginkan cahaya
Inginkan api menyala
Inginkan ramai di jiwa